Otonomi Khusus Papua dari Perspektif Politik Afirmasi Orang Asli Papua di Pemerintahan
DOI:
https://doi.org/10.36982/jpp.v10i3.5797Keywords:
Politik Afirmatif, Otonomi Khusus, Orang Asli Papua, Desentralisasi AsimetrisAbstract
Provinsi Papua merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memperoleh otonomi khusus dengan sistem desentralisasi asimetris berdasarkan Pasal 18B ayat (1) UUD NRI 1945. Konsepsi desentralisasi asimetris tersebut memberi perhatian khusus pada politik afirmasi kepada Orang Asli Papua (OAP) sebagai bagian dari masyarakat hukum adat melalui lembaga pemerintahan daerah yang bersifat khusus. Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui wujud desentralisasi asimetris di papua melalui kebijakan otonomi khusus dan politik afirmasi bagi OAP dalam lembaga Pemerintahan pasca perubahan undang-undang otonomi khusus bagi provinsi Papua. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian hukum normatif dengan mengkaji asas-asas umum atau doktrin hukum, sejarah maupun perbadingan hukum yang berkaitan dengan topik penelitian. Pendekatan yang digunakan adalah Pendekatan kepustakaan (library reseach) dan pendekatan peraturan perundang-undangan (statue approach). Hasil penelitian menunjukan bahwa secara de facto desentralisasi asimetris di Provinsi Papua terwujud melalui integrasi sistem adat ke dalam kerangka pemerintahan sebagai fondasi pembangunan. Melalui berbagai mekanisme afirmasi, negara memberikan ruang bagi representasi kultural dan politik yang sah dengan keberadaan MRP (Majelis Rakyat Papua), pengangkatan OAP dalam badan legislatif seperti DPRP (Dewan Perwakilan Rakyat Papua), serta keharusan calon kepala daerah berasal dari OAP. Keberadaan MRP, DPRP, dan Gubernur berfungsi sebagai tiga pilar utama dalam menjamin implementasi politik afirmasi yang adil dan manjunjung tinggi kearifan lokal di Papua.
References
A. Sakti dkk. (2021). Continuing the Limited Authority of the MRP; A Missed Opportunity,. Journal Cosmopolitan Civil Societies,, 8(1), 38.
Agus Samule. (2003). Mencari Jalan Tengah Otonomi Khusus Provinsi Papua,. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Amrusyi, F. (1987). Otonomi Dalam Negara Kesatuan, Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi (1 ed.). Jakarta: Media Sarana Press.
Departemen Dalam Negeri dan Program Politik Lokal Dan Otonomi Daerah UGM. (2003). Kajian Resolusi Permasalahan Papua Dari Aspek Politik Hukum Dan Pemerintahan,. Yogyakarta:: PLOD UGM.
Ferrazi, G. (2008). Special Autonomy: A Common Form of Asymmetric Decentralization,. Paper for Aceh Workshop.
Herjawan, H. (2024). Refleksi Kritis Pandangan Will Kymlicka dan Perlindungan Hukum Terhadap Hak Minoritas OAP,. Jurnal Binamulia Hukum, 13(1), 120. DOI: https://doi.org/10.37893/jbh.v13i1.706
Hetharia, M. (2019). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 41/PUU-XVII/2019. Jakarta: Mahkamah Konstitusi.
Ibrahim, J. (2008). Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif,. Surabaya: Bayumedia.
Isabelle Chatry. (2020). Asymmetric decentralization: Trends, challenges andpolicy implications,. OECED,.
J. Manor. (1997). The Political Economy of Decentralisation,. The World Bank,.
Jaweng, C. T. (2011). Kritik Terhadap Desentralisasi Asimetris Di Indonesia. Jurnal Analisis CSIS,, 40(2), 162.
Konstitusi, P. M. (2016). Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 34/PUU-XIV/2016, . jakarta: Mahkamah Konstitusi.
Louise Tillin. (2006). United in Diversity? Asymmetry in Indian Federalism,. The Journal of Federalism, 37(1), 46-48. DOI: https://doi.org/10.1093/publius/pjl017
Maleakhi Samuel Pasalli. (2023). Kebijakan Afirmasi Politik Bagi OAP Dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Di Papua. JURNAL HUKUM POLITIK DAN KEKUASAAN, 4(1). DOI: https://doi.org/10.24167/jhpk.v4i1.10561
Marc Weller, C. N. (2010). Assymetric Autonomy and Settlement of Ethnic Conflicts. Philadelphia,: University of Pennsylvania Press. DOI: https://doi.org/10.9783/9780812205756
Mukti ND dan Yulianto Ahmad Fajar. (2010). Dualisme Penulisan Hukum, Normatif dan empiris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ni’matul Huda. (2014). Desentralisasi Asimetris dalam NKRI,. Bandung: Nusa Media.
Nur Rohim. (2014). Optimalisasi Otonomi Khusus Papua Dalam Peningkatan Kesadaran Hukum Masyarakat Guna Meredam Konflik Dan Kekerasan,. Jurnal Fiat Justisia, 8(1), 90. DOI: https://doi.org/10.25041/fiatjustisia.v8no1.289
Nurus Zaman. (2020). Politik Hukum Dalam Negara Kesatuan Upaya Menciptakan Harmonisasi Pembangunan Hukum. Malang: Literasi Nusantara,.
Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua Nomor 14 Tahun 2016. (2016). 9 Pasal 3 Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua Nomor 14 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pemilihan Anggota MRP. .
Perviddya Solossa. (2005). Otonomi Khusus Papua Mengangkat Martabat Rakyat Papua di Dalam NKRI. jakarta: Sinar Harapan.
Revana Giara Effendy. (2023). Analisis Otonomi Khusus Papua Dalam Perpektif OAP,. Jurnal Binamulia Hukum,, 12(2), 311-312. DOI: https://doi.org/10.37893/jbh.v12i2.436
Ronald L. Wats. (2000). Asymmetrical Decentralization: Functional or Disfunctional,. Makalah Kongres IPSA,. Canada.
Safiudin. (2022). Politik Hukum Pengangkatan OAP Dalam Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah Papua,. Jurnal Poros Hukum Padjadjaran,, 4(1), 134-135. DOI: https://doi.org/10.23920/jphp.v4i1.916
Samule, A. (2003). Satu Setengah Tahun Otsus Papua Refleksi dan Prospek. Manokowari:: Yayasan ToPanG.
Soekanto, S. (1986). Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press.







